Sabtu, 06 Agustus 2011

Home » » Menanam Sayuran dengan teknik hidroponik

Menanam Sayuran dengan teknik hidroponik

Sayuran merupakan tanaman yang banyak mengandung vitamin dan mineral. Oleh karena itu, sayuran banyak dikonsumsi orang untuk menjaga dan mempertahankan kesehatan tubuh. Seiring dengan bertambahnya populasi di bumi dan lahan pertanian yang semakin sempit, para pakar pertanian membuat solusi menanam sayuran dengan teknik hidroponik (bercocok tanam tanpa tanah) untuk meminimalisir penggunaan lahan pertanian yang ada. Jadi dengan sempitnya lahan pertanian, para konsumen masih bisa mengonsumsi sayuran untuk kebutuhan hidupnya.
Prinsip dasar hidroponik dapat diterapkan dalam berbagai cara. Dalam perkembangannya sejak mulai popular 40 tahun lampau, hidroponik telah banyak mengalami perubahan-perubahan. Media tanam yang digunakan pun banyak yang sengaja dibuat khusus seperti kerikil sintesis (perlit).jadi bukan kerikil seperti yang kita kenal, tapi kerikil yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai kerikil dengan sifatnya yang sama. Demikian juga dengan wadah-wadah yang digunakan. Seperti pot misalnya, ada yang sengaja menciptakan pot khusus lengkap dengan alat petunjuk kebutuhan air dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan sinar matahari dan tingkat kelembaban, telah pula diciptakan rumah kaca. Tingkat kelembaban dapat diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman. Sinar khusus dari lampu di dalam rumah kaca akan menjaga kelangsungan proses fotosintesis meskipun tanaman berada di ruangan tertutup.
Berdasarkan media tanam yang digunakan, maka hidroponik dapat dilakukan dengan tiga metode, yakni :
1. Metode kultur air
2. Metode kultur pasir
3. Metode kultur bahan porous seperti ; kerikil, pecahan genteng, dan gabus putih.

Metode Kultur Air
Metode kultur air adalah metode mneumbuhkan tanaman-tanaman dengan air. Air sebagai media diisikan dalam wadah seperti tabung kaca atau wadah lainnya, kemudian dicampur dengan larutan pupuk atau larutan mineral untuk menyuplai kebutuhan tanaman. Air yang digunakan untuk mengisi wadah/ kontainer adalah air kran atau air ledeng. Tapi setiap air yang digunakan hendaknya selalu diukur tingkat keasamannya (pH). Tingkat kebasaan perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan jumlah unsure hidrogen yang dibutuhkan tanaman. Tingkat hidrogen yang terlalu tinggi akan berubah jadi basa (alkali), sementara tingkat hidrogen yang rendah akan berubah menjadi asam (acid). Untuk menetralkan tingkat pH yang dikehendaki sesuai dengan kebutuhan tanaman, maka perlu diadakan pengukuran. Alat pengukur sederhana dan murah adalah kertas lakmus. Hanya dengan memasukkan kertas lakmus ke dalam air atau media tanam lainnya akan langsung didapatkan tingkat keasaman suatu media tanam. Warna merah berarti asam kuat, warna hijau berarti basa kuat. Jika hasil pengukuran menunjukkan warna kuning berarti tingkat pH netral, antara 5,5-6,5. perlu diperhatikan bahwa kandungan air akan asam cenderung meningkat akibat penggunaan bahan kimia untuk menjernihkan air karena adanya pencemaran. Jadi, mengukur Ph sangatlah perlu agar metode yang digunakan bisa sukses. (Pinus Lingga, 1985)
Sesuai pengukuran pH, menyusul pemberian larutan mineral yang sebelumnya telah dicampur dalam wadah tertentu. Jumlah mineral yang dilarutkan disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya air berkurang karena adanya penguapan, tambahkan air. Jangan menambahkan larutan mineral. Mineral yang berlebihan dapat merusak akar. (Pinus Lingga, 1985)

Metode Kultur Pasir
Metode yang paling praktis dan lebih mudah diterapkan adalah metode kultur pasir. Misalnya menanam tanaman dalam jumlah yang banyak dalam satu kontainer atau petakan atau ingin menanam di areal yang lebih luas. Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan sebagai metode campuran antara metode kultur air dan metode pasir. Metode pasi bertindak sebagai media tumbuh, sementara metode air bertindak sebagai penyuplai kebutuhan tanaman akan makanan. (Pinus Lingga, 1985)
Pasir dapat ditempatkan dalam pot, di tanah, atau di wadah lain. Pada pasir ini ditancapkan tanaman, sementara makanannya berupa pupuk disiramkan setelah dilarutkan dengan air. Cara kerjanya adalah bahwa larutan pupuk/ mineral yang disiramkan pada tanaman mengalir sampai ke akar, dan bulu-bulu akar akan menyerap mineral yang dikandung larutan. Dalam metode ini yang cukup merepotkan adalah frekuensi penyiraman yang relatif singkat, lantaran pasir tidak dapat menyimpan air. Dengan demikian hasil siraman akan cepat mongering. Jadi perlu selalu dilihat tingkat kelembaban pasir. Kalau sudah keringbelum juga disiram, maka tanaman akan layu. (Pinus Lingga, 1985)
Pasir yang digunakan sebagai media tanam bisa dmenggunakan pasir kali. Pasir kali tidak boleh langsung digunakan, tetapi harus melewati perlakuan lebih dahulu. Pasir ini disterilkan melalui pemanasan hingga mencapai titik didih antara 100 oC -150oC. Dengan pemanasan, maka penyakit dan hama yang terkandung dalam pasir akan musnah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar